Indeks

















Daerah  

Perayaan HUT ke-46 Desa Matotonan: Merawat Tradisi, Mensyukuri Nikmat dalam Liat Pulaggajat

Matotonan,metrosumatra.com.

25 Agustus 2026 — Pemerintah Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Desa Matotonan, Selasa(25/8/2026). Peringatan tersebut menandai perjalanan Desa Matotonan sejak 10 Agustus 1980 hingga 10 Agustus 2026.





Perayaan HUT ke-46 berlangsung semarak dengan pesta adat yang melibatkan seluruh masyarakat Desa Matotonan. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan sekaligus menjaga dan melestarikan warisan adat serta budaya yang diwariskan para leluhur.

Salah satu rangkaian utama dalam perayaan HUT tersebut adalah Liat Pulaggajat, sebuah tradisi yang dimaknai sebagai pesta kebahagiaan dan ungkapan rasa syukur masyarakat atas berbagai nikmat dan karunia yang diterima dalam kehidupan.

Rasa syukur tersebut mencakup kesehatan, kehidupan, keberkahan serta berbagai kebaikan yang dirasakan masyarakat selama menjalani kehidupan bersama. Dalam pemahaman masyarakat Mentawai, khususnya tradisi yang hidup di tengah masyarakat Sikerei, rasa syukur tersebut ditujukan kepada Ulau Manua, yang diyakini sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi.

Karena itu, Liat Pulaggajat tidak sekadar dipandang sebagai pesta atau kegiatan seremonial. Tradisi ini memiliki nilai spiritual, sosial dan budaya yang kuat, sekaligus menjadi bentuk penghormatan masyarakat terhadap warisan leluhur.

Keterlibatan seluruh warga dalam perayaan tersebut juga mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat Desa Matotonan. Pemerintah Desa bersama masyarakat menjadikan HUT ke-46 sebagai ruang untuk mempererat persaudaraan, menjaga identitas budaya serta menanamkan nilai-nilai adat kepada generasi muda.

Perayaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan desa tidak hanya berbicara mengenai pembangunan fisik dan infrastruktur. Lebih dari itu, pembangunan juga harus berjalan seiring dengan upaya menjaga nilai adat, budaya, spiritualitas serta kebersamaan yang menjadi bagian penting dari jati diri masyarakat Desa Matotonan.

Melalui Liat Pulaggajat, masyarakat Desa Matotonan kembali meneguhkan komitmen untuk menjaga warisan leluhur dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, nilai-nilai kehidupan dan budaya Mentawai diharapkan tetap hidup, terpelihara dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Liat Pulaggajat bukan sekadar pesta kebahagiaan, tetapi menjadi ungkapan syukur, kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang terus hidup di Desa Matotonan.(Fais)

















Exit mobile version