Indeks
Daerah  

Dari Balik Jeruji Bukittinggi: Nanang Rukmana dan Staf Lapas Kelas IIA Sampaikan Salam Idul Fitri 1447 H/2026, Mohon Maaf Lahir Batin untuk Warga Binaan dan Keluarga

Bukittinggi,metrosumatra.com.

18 Maret 2026 — Gema takbir yang biasanya menggema di pelataran Jam Gadang kini menemukan pantulannya di lorong-lorong Lapas Kelas IIA Bukittinggi. Kepala Lapas, Nanang Rukmana, bersama jajaran staf berdiri di aula pembinaan, menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang bertepatan dengan tahun 2026, khusus kepada seluruh warga binaan yang merayakan dan keluarga mereka di rumah.

Bukan sekadar seremoni tahunan, sapaan itu dibungkus dengan ajakan yang sederhana namun menusuk: “Mohon maaf lahir dan batin.” Nanang menyebut kalimat itu sebagai jembatan—bukan hanya antara petugas dan warga binaan, tetapi juga antara masa lalu yang keliru dan masa depan yang ingin diperbaiki. “Lebaran adalah titik nol, tempat kita menekan tombol reset,” ujarnya di depan barisan yang khidmat.

Selama Ramadhan, suasana di dalam lapas berubah menjadi semacam pesantren mini. Dari tadarus ba’da ashar hingga tarawih berjamaah yang dipimpin bergantian oleh warga binaan dan petugas, ritme harian menjadi lebih pelan, lebih reflektif. Staf Lapas Kelas IIA Bukittinggi tidak hanya mengawal, melainkan ikut duduk bersila, mendengar keluh dan harap yang biasanya tenggelam oleh rutinitas pengamanan.

Nanang menekankan bahwa keluarga adalah simpul yang tak boleh putus. Karena itu, ucapannya melompat ke luar tembok: kepada ibu yang menyiapkan rendang di dapur, kepada anak yang menitip gambar ketupat lewat surat, kepada pasangan yang menahan rindu di ruang kunjungan. “Dukungan mereka adalah bahan bakar pembinaan. Kami hanya menyalakan sumbunya,” katanya, setengah tersenyum.

Ia juga memberi kredit terbuka bagi para staf. Di balik seragam, ada yang mengatur jadwal kajian, ada yang memastikan hidangan takjil tiba tepat waktu, ada pula yang menjadi “teman curhat” ketika kerinduan memuncak menjelang malam takbiran. Menurut Nanang, keamanan yang kokoh tidak lahir dari kunci ganda semata, melainkan dari rasa saling dihargai yang tumbuh pelan-pelan.

Pesan maaf lahir batin, lanjut Nanang, tidak boleh berhenti di bibir. Ia mengajak semua pihak—petugas, warga binaan, keluarga—menjadikannya kebiasaan: menyapa dengan kepala dingin, mendengar sebelum menilai, memberi ruang bagi orang lain untuk memperbaiki diri. “Kalau luka lama terus diungkit, kapan sembuhnya?” selorohnya, disambut anggukan dari beberapa warga binaan di barisan belakang.

Menjelang puncak Idul Fitri, kegiatan di lapas ditutup dengan pembagian kartu ucapan tulisan tangan—beberapa di antaranya ditulis oleh warga binaan untuk keluarga mereka. Ada yang menggambar ketupat miring, ada pula yang menuliskan janji sederhana: “Pulang nanti, saya bantu jualan di pasar.” Nanang menyebut kartu-kartu itu sebagai bukti bahwa harapan tidak pernah benar-benar dikurung.

Di ujung pertemuan, Nanang Rukmana bersama staf Lapas Kelas IIA Bukittinggi kembali menegaskan ucapan selamat Idul Fitri 1447 H/2026 kepada seluruh warga binaan dan keluarga yang merayakan. “Semoga maaf yang kita tukar hari ini menjadi bekal damai—di dalam sini, dan nanti di luar sana,” tutupnya, sementara takbir bersahutan dari pengeras suara, menyusup di antara jeruji menuju langit Bukittinggi yang cerah. Z.Dt).