BatipuhSelatan,metrosumatra.com.
Sebagaimana dampak bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Tanah Datar, khususnya di Kecamatan Batipuh Selatan, memicu tindak lanjut cepat dari otoritas keagamaan setempat.
Rada Rabu (21/1), rombongan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tanah Datar yang dipimpin langsung oleh H. Amril melakukan peninjauan mendalam terhadap kondisi Pondok Pesantren Yastu Malalo untuk memetakan kebutuhan mendesak serta memberikan dukungan moral bagi civitas akademika yang tengah berupaya memulihkan aktivitas pendidikan pasca musibah.
Kerusakan signifikan terlihat pada bangunan asrama yang hanyut terbawa derasnya arus sungai, terjadi pada akhir November 2025. Sementara pondasi gedung utama pembelajaran mulai terkikis akibat pelebaran aliran sungai yang berada tepat di sisi pesantren. Kini pesantren ini melanjutkan aktivitas pendidikan pada beberapa bangunan tersisa.
Hadir mendampingi Kepala Kantor dalam kunjungan ini Kasi Penmad Bahrul Fahmi, Kasi PD. Pontren Joni Roza, Penyelenggara Zakat dan Wakaf, serta jajaran Kepala Satker mulai dari KUA Batipuh Selatan, MAN 4, dan MTsN 4 Tanah Datar. Kehadiran rombongan disambut hangat oleh Pimpinan Pondok bersama Kepala Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Yastu Malalo.
Berdasarkan hasil rapat pemantapan data Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) bersama Bupati Tanah Datar, H. Amril menegaskan bahwa relokasi Pondok Pesantren Yastu Malalo menjadi solusi yang tidak bisa ditawar.
Kondisi geografis saat ini menempatkan pesantren dalam zona merah rawan bencana, diperparah dengan pondasi bangunan utama yang sudah terkikis aliran sungai. Demi keselamatan santri dan keberlanjutan pendidikan, relokasi adalah langkah strategis yang harus segera kita persiapkan bersama,” ujarnya saat meninjau titik kerusakan.
Sebagai bentuk aksi nyata, Kemenag Tanah Datar telah mengaktivasi Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk menghimpun bantuan dari seluruh jajaran ASN di lingkungan kementerian. Langkah koordinatif juga dilakukan secara intensif, baik dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Tanah Datar, Kanwil Kemenag Sumatera Barat, hingga pelaporan ke tingkat Kementerian Agama RI. Hal ini dilakukan guna memastikan penanganan dampak bencana di sektor pendidikan keagamaan mendapatkan atensi prioritas dari berbagai tingkatan kebijakan.
Menanggapi masa transisi menuju relokasi, H. Amril mengarahkan agar pihak pesantren segera menggelar musyawarah bersama Pemerintah Kecamatan, Nagari, niniak mamak, dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi tempat pembelajaran sementara. Meski dalam kondisi darurat, pimpinan menekankan agar persiapan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2026/2027 tetap berjalan sesuai jadwal. Hal ini merupakan wujud optimisme bahwa layanan pendidikan Islam di Malalo tidak boleh terhenti meski di tengah keterbatasan sarana prasarana.
Sekretaris Pengurus Yayasan Yastu Malalo, Sudirman, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas kepedulian keluarga besar Kemenag Tanah Datar. Pihak yayasan menyatakan kesiapan untuk mengupayakan lahan relokasi sambil menunggu dukungan bantuan pembangunan dari berbagai pihak. Selama proses transisi tersebut, pihak yayasan memohon izin untuk tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar menggunakan sisa bangunan yang masih dinyatakan aman untuk digunakan, demi menjaga hak pendidikan para santri.
Menutup kunjungan tersebut, H. Amril mengajak seluruh pihak untuk mengambil hikmah di balik musibah dan memastikan pemanfaatan bantuan dikelola dengan transparan serta akuntabel. Kemenag berkomitmen untuk mengawal proses pengusulan bantuan sarana prasarana agar tepat sasaran. “Kita kawal bersama usulan ini, semoga di tahun 2026 ini, ikhtiar untuk mendapatkan tanah dan bangunan baru sebagai tempat relokasi dapat segera terwujud demi kenyamanan belajar para santri,” pungkasnya.(Kmng/STM).
