Indeks
Daerah  

Sertifikat Kesehatan Sapi Pokir Dipertanyakan, Warga Minta Bukti Nyata Bukan Sekadar Dokumen

Mentawai,metrosumatra.com.

– Misteri kematian sapi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Mentawai semakin mengkhawatirkan. Meski pemerintah daerah menegaskan sapi bantuan pokok pikiran (Pokir) dewan sehat dan dilengkapi Sertifikat Kesehatan Hewan dari Badan Karantina Hewan Indonesia nomor 2025-H 3.0-13000 K. H. 1000023, kenyataan di lapangan menunjukkan jumlah sapi mati terus bertambah.

Data terbaru mencatat, pagi tadi kembali ditemukan tiga ekor sapi warga mati, sehingga total kematian di Desa Sipora Jaya sudah mencapai 22 ekor. Angka ini sama dengan jumlah kematian sapi di tiga dusun lain yang terdampak, yakni Pasapuat, Punjaringan, dan Tunas Tugut, yang sebelumnya juga mencatat total sekitar 22 ekor. Dengan demikian, jumlah keseluruhan sapi yang mati di Mentawai kini mencapai 44 ekor lebih hanya dalam kurun waktu sebulan.ini

Situasi ini semakin memperkuat keraguan masyarakat terhadap klaim kesehatan sapi pokir. “Kami tidak langsung percaya. Kalau memang sapi pokir sehat seperti di sertifikat, kenapa sapi-sapi lokal kami mati terus? Sertifikat itu bisa saja hanya formalitas administrasi agar sapi lolos perjalanan. Kami butuh bukti nyata, bukan hanya kertas,” ujar seorang warga dengan nada tegas.

Di sisi lain, Dinas Peternakan Kabupaten Kepulauan Mentawai tetap berpegang pada dokumen resmi yang menyatakan sapi pokir sehat. Namun, mereka mengakui bahwa kematian sapi warga adalah persoalan serius yang harus ditangani segera.
“Kami terus mencari penyebab pastinya. Sementara ini kami himbau masyarakat agar mengandangkan sapi supaya lebih mudah dipantau kesehatannya,” kata Chandra Payung, Kabid Peternakan Mentawai.

Pihak dinas juga telah berkoordinasi dengan Balai Veteriner Bukittinggi yang dijadwalkan turun ke Mentawai dalam waktu dekat. Tim ini diharapkan dapat melakukan uji laboratorium guna menjawab pertanyaan besar: apakah kematian sapi disebabkan oleh penyakit tertentu, kesalahan pemeliharaan, atau faktor lain.

Kini, keresahan masyarakat makin memuncak. Sertifikat kesehatan yang seharusnya menenangkan, justru menimbulkan tanda tanya: apakah benar sapi bantuan pokir bebas penyakit, atau hanya sebatas dokumen formalitas? Publik menunggu hasil investigasi resmi yang bisa memberi jawaban pasti sekaligus menghentikan spekulasi.(Fais)