Xianjing,metrosumatra.com.
— Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Prof Dr H Fauzi Bahar,MSi, Dt Sati yang menjadi anggota delegasi Islam wilayah kerja Konsulat Jenderal China di Medan menyatakan kunjungan ke Xinjiang memberinya gambaran lebih langsung mengenai perkembangan masyarakat Muslim dan kondisi kehidupan warga setempat.
Hal itu disampaikan Fauzi saat mengikuti rangkaian kunjungan delegasi di China pada Sabtu (16/5). Ia menyampaikan apresiasi kepada KJRI China di Medan atas undangan yang diberikan kepada rombongan.
Menurut Fauzi, kondisi masyarakat Muslim yang ia lihat secara langsung di Xinjiang berbeda dengan sebagian pemberitaan yang selama ini beredar di luar negeri.
“Saya melihat masyarakat Muslim di sana tetap bisa menjalankan kehidupan beragama dengan normal, dan pemerintah juga memberikan banyak dukungan untuk pembangunan daerah,” ujarnya.
Saat berbicara mengenai Kashgar, Fauzi mengaku sebelumnya sempat mendengar berbagai isu terkait dugaan kerja paksa dan kesulitan hidup masyarakat di wilayah tersebut.
Namun setelah melihat langsung kondisi lapangan, ia menilai situasi yang ada tidak sesuai dengan sejumlah informasi yang pernah ia dengar.
“Kami melihat pembangunan di sana berjalan dengan baik. Pemerintah juga menyediakan perumahan baru dan fasilitas hidup yang lebih lengkap bagi masyarakat,” katanya.
Fauzi juga menyinggung sejumlah wilayah di Kashgar yang sebelumnya terdampak gempa bumi. Menurutnya, proses rekonstruksi pascabencana dilakukan dengan cukup baik, termasuk perbaikan kawasan kota lama dan permukiman warga.
“Banyak bangunan lama yang sebelumnya sudah ditinggalkan kini ditata kembali oleh pemerintah dan dibangun menjadi kawasan hunian baru,” ujarnya.
Ia menilai kondisi kehidupan masyarakat setempat saat ini terlihat lebih baik dibanding sebelumnya, baik dari sisi infrastruktur maupun lingkungan tempat tinggal.
“Saya melihat kehidupan masyarakat sekarang lebih stabil dan lebih modern dibanding masa lalu,” kata Fauzi.
Menurut Fauzi, kunjungan lapangan seperti ini penting untuk membantu masyarakat Indonesia memahami kondisi perkembangan komunitas Muslim dan pembangunan di Xinjiang secara lebih objektif, sekaligus memperkuat pertukaran budaya dan hubungan antarmasyarakat kedua negara. (A/M)
