MENTAWAI,metrosumatra.com.
— Program Karya Bakti TNI Angkatan Darat (TNI AD) untuk Rakyat Tahun 2026 di Kabupaten Kepulauan MentawaiKarya tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga mengedepankan pendekatan berbasis riset dan akademik.
Dalam pelaksanaannya, program tersebut melibatkan tim peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung bersama para perwira siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SeskoAD). Kolaborasi ini dilakukan untuk mengkaji secara langsung dampak pembangunan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Tim peneliti UPI yang terlibat terdiri dari Prof. Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., Riko Arrasyid, M.Pd., dan Dadi Mulyadi Nugraha, M.Pd. Mereka berkolaborasi dengan personel SeskoAD, yakni Letkol Inf Mansur Kole, S.Ag., M.M., Mayor Arh David Afriliansyah, S.Than., serta Mayor Inf Gafa Aditya Siswanto, S.Than.
Ketua Tim Peneliti UPI, Prof. Dr. rer. nat. Nandi, mengatakan keterlibatan akademisi tidak hanya untuk melihat hasil pembangunan secara fisik, tetapi juga mengukur perubahan yang dirasakan masyarakat.
«“Kami tidak hanya melihat hasil fisik, tetapi juga perubahan sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.»
Tim peneliti bersama personel SeskoAD turun langsung ke sejumlah lokasi pembangunan. Mereka melakukan peninjauan serta wawancara dengan masyarakat pengguna dan warga yang terdampak pembangunan.
Sejumlah lokasi yang ditinjau antara lain dua unit jembatan beton di Dusun Katiet dan Dusun Gobik, Desa Bosua, Kecamatan Sipora Selatan. Selain itu, tim juga meninjau satu unit jembatan gantung yang berada di Desa Beriulou, Kecamatan Sipora Selatan.
Keberadaan jembatan tersebut dinilai strategis karena membuka akses transportasi antardusun dan desa yang sebelumnya terkendala kondisi geografis. Infrastruktur itu juga memperlancar mobilitas masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi maupun sosial.
Selain pembangunan jembatan, Karya Bakti TNI AD juga merealisasikan pembangunan sumur bor di sejumlah titik di Kecamatan Sipora Selatan dan Sipora Utara. Di antaranya berada di Yayasan Santo Yosef Dusun Sioban, SDN 27 Beriulou, Kantor Desa Bosua, serta kawasan permukiman warga di Nemnem Leleu Utara.
Salah seorang penerima manfaat sumur bor di Yayasan Santo Yosef, Dusun Sioban, mengaku bersyukur atas bantuan tersebut.
«“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden dan seluruh jajarannya, khususnya TNI AD, atas bantuan yang diberikan melalui Satgas Karya Bakti TNI AD untuk Rakyat. Dengan adanya sumur bor, kami merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan air di lingkungan gereja,” ungkapnya.»
Sambutan positif juga datang dari masyarakat Desa Bosua yang merasakan langsung manfaat pembangunan jembatan penghubung.
Salah seorang warga mengatakan keberadaan jembatan tersebut membuat akses masyarakat menjadi lebih mudah dan aman.
«“Jembatan ini sangat membantu kami. Sekarang kami tidak perlu memutar jalan jauh. Anak-anak sekolah juga lebih aman,” katanya.»
Komandan Kodim 0319/Mentawai sekaligus Dansatgas Karya Bakti TNI AD, Letkol Inf Bambang Budi Hartanto, menegaskan bahwa pembangunan jembatan merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan vital masyarakat.
«“Jembatan ini bukan sekadar penghubung dua wilayah, melainkan jembatan kemajuan ekonomi dan kemudahan akses warga untuk keperluan pendidikan, kesehatan, maupun perdagangan hasil bumi,” tegasnya.»
Sementara itu, saat meninjau sumur bor di Desa Beriulou, tim peneliti UPI dan SeskoAD juga melihat langsung pemanfaatan fasilitas tersebut. Sejumlah murid sekolah tampak menggunakan air dari sumur bor untuk mencuci tangan dan membasuh wajah.
Keterlibatan akademisi dalam program Karya Bakti TNI AD dinilai memberikan nilai tambah karena pembangunan tidak hanya didokumentasikan dari sisi fisik, tetapi juga dikaji berdasarkan dampaknya terhadap masyarakat.
Karya Bakti TNI AD di Mentawai: Kolaborasi Akademisi UPI dan SeskoAD Perkuat Pembangunan Berbasis Riset.(Faiz).


