Agama  

Masjid Cahaya Syorga 13 Malang Berkembang Pesat, Gusnur: Di Balik Ujian Ada Rahasia Allah

Malang, metrosumatra.com.

Masjid Cahaya Syorga 13 yang dibangun oleh Ustaz Gusnur di Malang, Jawa Timur, kini berkembang pesat. Kompleks masjid yang terbuka selama 24 jam, termasuk pada hari libur, itu ramai dikunjungi ratusan jemaah dari berbagai daerah. Selain beribadah, para pengunjung juga datang untuk bersilaturahmi dan memberikan bantuan bagi pengembangan masjid yang kini diperluas menjadi kompleks pesantren tersebut.





Perjalanan pembangunan Masjid Cahaya Syorga 13 tidak terlepas dari kisah perjuangan dan ujian hidup yang dialami Ustaz Gusnur. Ia pernah menjalani hukuman penjara selama empat tahun dalam perkara yang berkaitan dengan pernyataannya mengenai ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Polemik mengenai ijazah tersebut juga menjadi perbincangan publik, termasuk keterlibatan sejumlah pihak seperti Roy Suryo dan dr. Tifa.

Kisah perjuangan Gusnur itu diceritakannya ketika berbincang dengan sejumlah tamu dari Tanah Datar, Sumatera Barat, yang terdiri dari alumni SPG angkatan 1982 dan pensiunan aparatur sipil negara (ASN). Mereka berkunjung ke kompleks Masjid Cahaya Syorga 13 pada bulan lalu. Dalam suasana penuh keakraban, Gusnur mengungkapkan pengalaman pahit yang dialaminya selama menjalani masa hukuman.

Menurut penuturannya, selama berada di penjara ia mengalami kondisi fisik dan mental yang berat. Ia mengaku pernah ditempatkan di kamar berukuran sekitar dua meter yang dihuni banyak tahanan, termasuk orang-orang yang disebutnya terjerat kasus narkoba. Kondisi ruangan yang sempit dan berbau tidak sedap, menurut Gusnur, membuatnya kesulitan untuk duduk, tidur, maupun beristirahat dengan nyaman.

Tidak hanya menghadapi kondisi ruang tahanan yang sulit, Gusnur juga mengaku pernah mengalami pembatasan komunikasi dengan keluarganya selama tiga bulan. Situasi tersebut semakin berat karena pada saat bersamaan pembangunan masjid yang dirintisnya baru sampai tahap pondasi. Ia juga masih memiliki utang sebesar Rp150 juta kepada pemilik tanah yang digunakan untuk pembangunan masjid tersebut.

Gusnur mengungkapkan, pada awal menjalani hukuman, dirinya merasa berat menerima keadaan yang dialaminya. Ia menyatakan tidak sependapat dengan tuduhan yang ditujukan kepadanya dan mempersoalkan persoalan pembuktian dalam perkara yang dihadapinya. Namun, setelah melewati masa isolasi selama tiga bulan, ia mengaku mulai mengubah cara pandangnya terhadap cobaan tersebut.

“Setelah tiga bulan terpisah dari keluarga, saya menyerahkan semuanya kepada Allah. Saya meyakini bahwa apa yang saya alami merupakan ketentuan Allah. Karena itu, saya berusaha menjalani semuanya dengan ikhlas,” tutur Gusnur mengenang masa-masa sulit tersebut.

Sikap pasrah dan berusaha menerima keadaan itu, menurut Gusnur, juga didukung oleh istrinya. Ia menceritakan bahwa keluarganya berusaha tidak larut dalam kesedihan maupun menyimpan dendam kepada orang-orang yang dianggap telah menyebabkan dirinya menjalani hukuman. Sebaliknya, ia bersama istri dan anak-anaknya memilih mendoakan agar Allah memberikan ampunan kepada mereka yang dinilainya telah menyakitinya.

Dalam kesempatan tersebut, Gusnur juga mengisahkan adanya tawaran yang menurut pengakuannya disampaikan oleh pihak-pihak yang dikaitkannya dengan Jokowi. Ia mengaku pernah ditawari kebebasan dengan syarat datang ke Solo untuk menemui Jokowi dan meminta maaf, disertai tawaran uang sebesar Rp3 miliar. Namun, menurut Gusnur, ia bersama istri dan anak-anaknya sepakat menolak tawaran tersebut dan memilih menjalani hukuman hingga selesai. Kisah itu merupakan penuturan Gusnur kepada para tamunya dan belum dapat dipastikan secara independen.

Ketika Gusnur menjalani hukuman pada 2021, pembangunan Masjid Cahaya Syorga 13 disebutnya hampir terhenti akibat keterbatasan dana dan persoalan utang. Namun, ia mengaku kemudian memperoleh pertolongan dari para donatur yang datang tanpa diduga. Utang sebesar Rp150 juta kepada pemilik tanah akhirnya terlunasi, sementara bantuan untuk pembangunan masjid terus mengalir. Setelah keluar dari penjara pada 2024, ia melihat perkembangan kompleks masjid semakin nyata dan mulai diperluas menjadi kawasan pesantren.

Kini, menurut keterangan Gusnur, dana sekitar Rp1,5 miliar telah terkumpul dari target kebutuhan pembangunan yang diperkirakan lebih dari Rp3 miliar hingga selesai. Bantuan masih terus dihimpun dari para donatur. Pengunjung pun berdatangan setiap hari, tidak hanya dari berbagai provinsi di Indonesia, tetapi juga dari Malaysia, Singapura, bahkan sejumlah negara Timur Tengah. Mereka datang untuk beribadah, bersilaturahmi, dan melihat langsung perkembangan kompleks masjid tersebut.

Bagi Gusnur, perkembangan Masjid Cahaya Syorga 13 menjadi pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan pentingnya menjaga prasangka baik kepada Allah di tengah ujian kehidupan. Ia meyakini bahwa manusia tidak selalu mengetahui hikmah di balik peristiwa yang dialaminya. “Di balik hinaan dan cobaan yang saya rasakan, ternyata ada jalan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Inilah pentingnya berdamai dengan hati, berserah diri kepada Allah, dan tetap berprasangka baik kepada-Nya,” ungkapnya. Ia berharap Masjid Cahaya Syorga 13 dapat terus berkembang menjadi tempat ibadah, pendidikan, dan persinggahan bagi masyarakat dari berbagai penjuru.(MW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *