Opini  

Sumpah Pemuda ke-98: Pemuda Hebat Itu Berani Bermimpi dan Menjaga Marwah Bangsa

Oleh: H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., M.H.
Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali memperingati Sumpah Pemuda. Kita mengenang ikrar yang lahir dari kesadaran anak-anak muda pada 1928: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.





Namun, setelah 98 tahun berlalu, ada pertanyaan penting yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: sudah sejauh mana semangat Sumpah Pemuda hidup dalam karakter, tindakan, dan tanggung jawab generasi muda hari ini?

Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa bersejarah yang diperingati melalui upacara, pidato, atau unggahan di media sosial. Ia adalah komitmen kebangsaan yang harus terus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Nilainya perlu hadir di ruang pendidikan, lingkungan keluarga, organisasi kepemudaan, lembaga pemerintahan, dunia usaha, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari.

Bagi saya, Sumpah Pemuda mengandung pesan yang tidak pernah kehilangan relevansinya: masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam atau kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang mengelolanya.

Di sinilah pemuda memegang peranan penting.

Persatuan Tidak Cukup Diucapkan, Harus Diperjuangkan
Para pemuda yang berkumpul pada 1928 datang dari latar belakang daerah, suku, dan organisasi yang berbeda. Mereka hidup dalam situasi penjajahan, ketika persatuan bukanlah sesuatu yang mudah diwujudkan. Namun, mereka mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas sekat-sekat perbedaan.

Semangat itulah yang perlu diwarisi generasi sekarang.

Kita hidup pada zaman yang memberikan peluang besar bagi anak muda untuk belajar, berkarya, membangun usaha, menyampaikan pendapat, dan berpartisipasi dalam kehidupan publik. Teknologi membuat informasi bergerak cepat dan hubungan antarmanusia semakin terbuka.

Akan tetapi, kemajuan tersebut juga membawa tantangan. Perbedaan pendapat dapat berubah menjadi permusuhan. Informasi yang belum terverifikasi dapat menyulut kegaduhan. Persaingan yang seharusnya melahirkan prestasi terkadang justru berkembang menjadi upaya menjatuhkan orang lain.

Dalam keadaan seperti ini, semangat Sumpah Pemuda harus menjadi pegangan.

Pemuda boleh berbeda pandangan, berbeda pilihan politik, berbeda latar belakang sosial, bahkan berbeda cara memperjuangkan cita-cita. Namun, perbedaan tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap sesama dan komitmen untuk menjaga keutuhan bangsa.

Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Persatuan justru membutuhkan kedewasaan untuk menerima perbedaan, keberanian menyampaikan kritik dengan bertanggung jawab, serta kesediaan mencari jalan keluar demi kepentingan bersama.

Bangsa yang besar membutuhkan pemuda yang kritis, tetapi tidak mudah terprovokasi; berani bersuara, tetapi tetap menghormati orang lain; dan memiliki idealisme, tetapi mampu mempertanggungjawabkan setiap tindakannya.

Pengalaman Mengajarkan: Kepemimpinan Bukan Sekadar Jabatan
Perjalanan saya di organisasi kepemudaan, termasuk dalam kepemimpinan Pemuda Pancasila, serta pengalaman menjalankan amanah sebagai Ketua DPRD Sumatera Barat (2004-2009), Wakil Ketua DPRD Sumbar (2009-2014) dan DPD RI (periode 2014-2024), bahkan dipilih lima kali berturut-turut secara aklamasi sebagai Ketua Badan Kehormatan DPD RI (2019-2024), memberikan ruang refleksi tentang arti kepemimpinan dan tanggung jawab publik.

Jabatan, sebesar apa pun, bukanlah tujuan akhir. Jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan integritas, kedisiplinan, dan kesadaran bahwa keputusan seorang pemimpin dapat mempengaruhi kehidupan banyak orang.

Hal ini penting dipahami oleh generasi muda yang mulai menapaki dunia organisasi, politik, pemerintahan, maupun profesi lainnya.

Jangan mengukur keberhasilan kepemimpinan hanya dari seberapa tinggi posisi yang berhasil diraih, seberapa banyak orang yang mengikuti, atau seberapa luas pengaruh yang dimiliki. Ukurlah juga dari manfaat yang diberikan, persoalan yang berhasil diselesaikan, kepercayaan yang dijaga, dan keteladanan yang ditinggalkan.

Seorang pemimpin muda tidak harus menunggu menduduki jabatan formal untuk memberi manfaat. Ia dapat memulai dari hal-hal sederhana: menjalankan tanggung jawab organisasi secara jujur, menghargai pendapat anggota, menghindari penyalahgunaan kepercayaan, membantu masyarakat yang membutuhkan, dan berani mengakui kesalahan.

Dari kebiasaan-kebiasaan itulah karakter kepemimpinan dibentuk.

Pemuda yang terbiasa bertanggung jawab atas tugas kecil akan lebih siap menghadapi tanggung jawab yang lebih besar. Sebaliknya, ambisi tanpa pengendalian diri dapat menjadikan jabatan sebagai alat untuk memenuhi kepentingan pribadi, bukan sebagai sarana pengabdian.

Karena itu, kita membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas merancang masa depan, tetapi juga matang dalam menyikapi kekuasaan, perbedaan, dan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Etika Adalah Fondasi Martabat Pemimpin
Dalam kehidupan berorganisasi dan bernegara, kecakapan saja tidak cukup. Seseorang mungkin memiliki pendidikan tinggi, kemampuan komunikasi yang baik, jaringan luas, dan keberanian mengambil keputusan. Namun, semua itu harus disertai etika.

Pengalaman dalam lingkungan lembaga perwakilan, termasuk tanggung jawab yang berkaitan dengan kehormatan dan etika anggota DPD RI, mengingatkan kita bahwa martabat sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh aturan yang tertulis. Martabat itu juga tercermin melalui perilaku orang-orang yang menjalankan amanah di dalamnya.

Etika bukan sekadar urusan tata krama. Etika berkaitan dengan kejujuran, kepatutan, tanggung jawab, penghormatan terhadap aturan, serta kesadaran untuk tidak menyalahgunakan kepercayaan.

Prinsip ini berlaku bagi semua orang, terutama mereka yang memiliki kekuasaan atau pengaruh.

Bagi pemuda, membangun budaya etis dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari. Tidak menyontek, tidak memanipulasi informasi, tidak merundung teman, tidak menyebarkan fitnah, tidak mengambil hak orang lain, serta tidak menggunakan jabatan organisasi untuk menekan pihak yang berbeda pendapat merupakan bagian dari pendidikan karakter.

Di era digital, etika juga berarti memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, menjaga privasi orang lain, tidak membangun popularitas melalui penghinaan, dan berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Kita perlu memahami bahwa kebebasan berekspresi selalu berjalan bersama tanggung jawab. Kritik terhadap kebijakan publik merupakan bagian penting dari kehidupan demokratis. Namun, kritik yang baik semestinya bertumpu pada fakta, argumentasi, dan kepedulian terhadap perbaikan, bukan pada kebencian atau serangan pribadi.

Pemuda yang mampu menjaga etika ketika berbeda pendapat sesungguhnya sedang membangun kualitas demokrasi Indonesia.

Pancasila Harus Hidup dalam Perilaku Generasi Muda
Pancasila bukan hanya dasar negara yang dihafalkan dalam ruang kelas. Nilai-nilainya harus menjadi pedoman dalam memperlakukan sesama, mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Dalam konteks kepemudaan, Pancasila mengajarkan bahwa kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab, persatuan harus menghormati keberagaman, dan keadilan harus menjadi perhatian dalam setiap upaya pembangunan.

Generasi muda perlu memiliki keberanian untuk menolak diskriminasi, perundungan, kekerasan, korupsi, dan berbagai perilaku yang merendahkan martabat manusia. Keberanian tersebut harus diwujudkan melalui cara-cara yang bertanggung jawab, sesuai hukum, dan mengutamakan penyelesaian masalah.

Organisasi kepemudaan juga harus menjadi ruang pembelajaran yang sehat. Di sana, anak muda belajar menyampaikan gagasan, mengelola perbedaan, menyusun program, membagi tanggung jawab, dan mengevaluasi hasil kerja.

Organisasi jangan hanya menjadi tempat mengumpulkan massa atau membangun popularitas. Organisasi seharusnya melahirkan kader yang memiliki pengetahuan, keterampilan, kepedulian sosial, dan integritas.

Kaderisasi yang baik bukan semata-mata menghasilkan penerus jabatan, melainkan membentuk manusia yang mampu berpikir mandiri, bekerja bersama, serta memberikan solusi atas persoalan di lingkungannya.

Di sinilah nilai-nilai Pancasila memperoleh maknanya yang konkret: bukan berhenti sebagai semboyan, tetapi hadir dalam perilaku dan keputusan.

Minangkabau Mengajarkan Keseimbangan antara Ilmu, Adat, dan Agama
Sebagai orang yang tumbuh dalam lingkungan budaya Minangkabau dan menjalankan amanah sebagai Penasehat Jemaah Syattariyah di Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Bengkulu, saya memandang bahwa pembentukan karakter pemuda perlu berakar pada nilai-nilai luhur yang hidup dalam masyarakat.

Minangkabau memiliki tradisi yang menempatkan musyawarah, penghormatan terhadap sesama, tanggung jawab sosial, serta keseimbangan adat dan agama sebagai bagian penting kehidupan bersama.

Falsafah Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah mengandung pesan tentang pentingnya hubungan antara nilai adat dan ajaran agama dalam membentuk perilaku masyarakat. Nilai tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran karakter, sepanjang dipahami secara bijaksana, terbuka terhadap dialog, dan diwujudkan dalam tindakan yang membawa kemaslahatan.

Sementara itu, semangat egaliter dalam kehidupan masyarakat Minangkabau mengingatkan bahwa martabat manusia tidak semestinya ditentukan semata-mata oleh kekayaan, jabatan, atau keturunan. Setiap orang perlu memperoleh ruang untuk belajar, menyampaikan pendapat, dan mengembangkan kemampuannya.

Nilai-nilai ini relevan bagi pemuda masa kini.

Agama hendaknya menumbuhkan kejujuran, kasih sayang, disiplin, dan kepedulian. Adat dapat mengajarkan tanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat. Pendidikan modern memperluas wawasan, mengasah kemampuan berpikir kritis, serta mempersiapkan anak muda menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketiganya tidak harus dipertentangkan. Justru melalui dialog yang sehat, generasi muda dapat membangun identitas yang kuat sekaligus terbuka terhadap kemajuan.

Kita tidak ingin melahirkan pemuda yang hanya bangga pada masa lalu, tetapi tidak mampu menjawab persoalan masa kini. Kita juga tidak ingin menghasilkan generasi yang mengejar kemajuan dengan meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.

Yang kita perlukan adalah pemuda yang berakar kuat pada nilai luhur, berpikiran terbuka, terampil, dan mampu membawa manfaat bagi lingkungan yang lebih luas.

Generasi Emas Tidak Lahir dengan Sendirinya
Pembicaraan mengenai generasi emas Indonesia tidak boleh berhenti pada optimisme dan slogan. Generasi yang unggul harus dipersiapkan melalui pendidikan yang bermutu, kesempatan yang adil, kesehatan yang baik, keterampilan yang relevan, serta lingkungan sosial yang mendukung pertumbuhan karakter.

Pemuda di perkotaan maupun di pelosok daerah memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan mengembangkan potensinya. Anak muda dari keluarga sederhana harus memiliki jalan untuk memperoleh pendidikan, mengakses pelatihan, membangun usaha, dan memasuki dunia kerja yang layak.

Karena itu, tanggung jawab menyiapkan generasi masa depan tidak dapat dibebankan kepada pemuda seorang diri.

Keluarga harus memberikan keteladanan. Sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter sekaligus kemampuan akademik. Organisasi masyarakat harus membuka ruang partisipasi. Dunia usaha dapat memperluas kesempatan magang dan kewirausahaan. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pengembangan kapasitas generasi muda secara terukur dan berkelanjutan.

Di tingkat daerah, potensi pemuda Sumatera Barat sangat beragam. Ada yang menonjol dalam pendidikan, olahraga, seni, budaya, teknologi, kewirausahaan, pertanian, perikanan, dan berbagai bidang lainnya.

Potensi itu harus diberi ruang untuk berkembang.

Pemuda di nagari, misalnya, dapat dilibatkan dalam pengembangan ekonomi lokal, pelestarian budaya, inovasi pertanian, pengelolaan lingkungan, dan pengembangan wisata berbasis masyarakat. Anak muda di perkotaan dapat berkontribusi melalui inovasi digital, industri kreatif, penguatan usaha kecil, serta kegiatan sosial yang menjawab kebutuhan warga.

Yang penting, mereka tidak hanya diposisikan sebagai penerima program. Pemuda harus dilibatkan dalam mengidentifikasi masalah, merancang kegiatan, melaksanakan solusi, dan mengevaluasi hasilnya.

Dengan demikian, mereka belajar bahwa pembangunan bukan sesuatu yang semata-mata dikerjakan untuk masyarakat, melainkan proses yang perlu melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

Pemuda Harus Berani Menghadapi Masalah dan Menawarkan Solusi
Tantangan generasi muda tidak ringan. Persaingan kerja, perubahan teknologi, kesenjangan kesempatan, tekanan sosial, penyebaran informasi palsu, serta persoalan lingkungan menuntut kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Dalam situasi seperti ini, kita tidak cukup hanya meminta pemuda menjadi tangguh. Kita juga harus memberikan dukungan agar mereka memiliki kemampuan untuk bertahan, bangkit, dan menemukan jalan keluar.

Ketangguhan bukan berarti tidak pernah mengalami kegagalan. Ketangguhan berarti mampu belajar dari kegagalan, memperbaiki strategi, meminta bantuan ketika diperlukan, dan melanjutkan perjuangan dengan cara yang lebih baik.

Pemuda juga perlu didorong agar tidak mudah terjebak dalam budaya menyalahkan keadaan. Kritik terhadap persoalan struktural tetap penting, tetapi harus disertai upaya memahami akar masalah dan merumuskan jalan perbaikan.

Jika menghadapi persoalan sampah, misalnya, pemuda dapat memulai gerakan pengurangan sampah dari lingkungan sendiri. Jika melihat anak-anak kesulitan belajar, mereka dapat membangun kelompok belajar bersama. Jika menemukan potensi ekonomi lokal yang belum berkembang, mereka dapat menginisiasi pelatihan, promosi digital, atau kolaborasi usaha.

Tentu, persoalan besar membutuhkan dukungan kebijakan dan sumber daya yang memadai. Namun, tindakan kecil yang terencana dapat menjadi awal perubahan yang lebih luas.

Saya berharap semakin banyak organisasi kepemudaan yang mengarahkan energi anggotanya pada kegiatan produktif, peningkatan keterampilan, pengabdian masyarakat, dan penguatan solidaritas sosial.

Keberanian pemuda seharusnya tidak hanya terlihat ketika menyampaikan tuntutan, tetapi juga ketika bersedia turun tangan mencari solusi.

Dari Sumpah Menjadi Gerakan Nyata
Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 sepatutnya menjadi momentum untuk mengubah semangat menjadi kerja nyata.

Pertama, pemuda perlu memperkuat kualitas diri melalui pendidikan, literasi digital, penguasaan keterampilan, dan kebiasaan belajar sepanjang hayat.

Kedua, organisasi kepemudaan harus membangun budaya yang sehat, demokratis, disiplin, serta terbuka bagi kaderisasi dan gagasan baru.

Ketiga, generasi muda perlu memperluas kepedulian sosial dengan terlibat dalam persoalan nyata di lingkungan masing-masing, bukan hanya aktif ketika ada peringatan tertentu.

Keempat, pemuda harus menjaga etika dalam kehidupan pribadi, organisasi, dan ruang digital. Popularitas tidak boleh mengalahkan kebenaran, dan ambisi tidak boleh menghapus tanggung jawab.

Kelima, pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan dunia usaha harus memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak muda untuk berpartisipasi dalam pembangunan serta menyampaikan gagasan secara konstruktif.

Langkah-langkah ini memang tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan dalam waktu singkat. Namun, perubahan yang berkelanjutan membutuhkan komitmen, konsistensi, dan kemauan untuk bekerja bersama.

Sumpah Pemuda akan semakin bermakna ketika semangat persatuan diterjemahkan menjadi solidaritas, semangat kebangsaan menjadi pengabdian, dan keberanian generasi muda menjadi kemampuan menghadirkan solusi.

Menjaga Marwah Bangsa Dimulai dari Diri Sendiri
Pada akhirnya, marwah bangsa tidak hanya dijaga oleh para pemimpin atau lembaga negara. Marwah bangsa juga tercermin dalam perilaku setiap warga negara, termasuk generasi mudanya.

Bangsa ini membutuhkan pemuda yang memiliki keberanian untuk bermimpi besar, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati. Pemuda yang mampu bersaing, tetapi tidak merendahkan orang lain. Pemuda yang kritis terhadap kekuasaan, tetapi tetap menghormati kebenaran dan aturan. Pemuda yang mencintai daerahnya, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masa depan Indonesia secara keseluruhan.

Kita tidak boleh membiarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling menjauh. Kita juga tidak boleh membiarkan kemajuan teknologi mengikis kejujuran, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Kepada generasi muda Sumatera Barat dan seluruh Indonesia, saya berpesan: gunakan masa muda untuk membangun kemampuan, memperluas wawasan, memperkuat karakter, dan memberi manfaat bagi sesama. Jangan takut mengambil peran, tetapi persiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Jangan berhenti mengkritik, tetapi belajarlah menawarkan solusi. Jangan hanya menuntut perubahan, tetapi jadilah bagian dari perubahan itu sendiri.

Sebab, masa depan Indonesia tidak cukup dibangun oleh generasi yang pandai berbicara tentang cita-cita. Masa depan membutuhkan generasi yang bersedia bekerja, menjaga kepercayaan, dan mempertanggungjawabkan setiap amanah.

Sumpah Pemuda ke-98 harus menjadi pengingat bahwa persatuan adalah kekuatan, etika adalah fondasi kepemimpinan, dan pengabdian adalah ukuran kebermanfaatan.

Mari kita jadikan semangat 28 Oktober sebagai energi untuk melahirkan pemuda yang cerdas pikirannya, kuat karakternya, luhur budinya, luas kepeduliannya, serta teguh menjaga Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari pemuda yang berkarakter lahir kepemimpinan yang bermartabat. Dari kepemimpinan yang bermartabat tumbuh kepercayaan. Dan dari kepercayaan serta kerja bersama, kita dapat membangun Indonesia yang lebih adil, maju, dan berkeadaban.

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98. Bersatu dalam cita-cita, beretika dalam tindakan, berkarya untuk Indonesia. (LH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *