Padang,metrosumatra.com.
— Rumah Sakit Jiwa (RSJ) HB Saanin bersinergi dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat memperkuat upaya deteksi dini dan penanganan awal gangguan mental emosional pada remaja melalui aplikasi Talk GME. Kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan mendukung perkembangan peserta didik.
Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) 2026 tersebut dilaksanakan di halaman Kantor Gubernur Sumatera Barat, Minggu (18/10/2026), dengan melibatkan 150 siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) se-Kota Padang.
Hadir dalam kegiatan itu Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sumbar Edison, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Tan Gusli, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang Yasril, serta sejumlah undangan lainnya.
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental remaja melalui edukasi, skrining awal, dan akses konsultasi dengan tenaga profesional. Kesehatan mental dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan, selain kecerdasan intelektual, prestasi akademik, dan pembentukan karakter.
Direktur RSJ HB Saanin, dr. Ardoni, menegaskan bahwa persoalan kesehatan jiwa tidak boleh dipandang sebelah mata. Menurutnya, masalah kesehatan mental membutuhkan perhatian serius, pencegahan sejak dini, serta penanganan yang terencana dan berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai pihak.
Dalam pemaparannya, dr. Ardoni menyampaikan data mengenai persoalan kesehatan jiwa secara global dan nasional yang menunjukkan pentingnya memperkuat upaya pencegahan. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut menyebutkan sekitar 24 juta orang atau satu dari 300 orang di dunia mengalami gangguan jiwa berat.
Sementara itu, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, angka gangguan jiwa berat di Indonesia diperkirakan mencapai empat orang per 1.000 penduduk. Di Sumatera Barat, prevalensinya disebut mencapai 4,8 per 1.000 penduduk, lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Data pelayanan RSJ HB Saanin juga menggambarkan kebutuhan terhadap layanan kesehatan jiwa. Sepanjang 2025, tercatat 2.711 pasien dengan gangguan jiwa berat menjalani perawatan. Pada semester pertama 2026, jumlah pasien yang dirawat mencapai 1.757 orang.
Perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja juga menjadi hal penting. RSJ HB Saanin mencatat 112 pasien anak dan remaja dengan gangguan jiwa berat menjalani perawatan sepanjang 2025, sedangkan pada semester pertama 2026 jumlahnya mencapai 90 orang. Angka tersebut merupakan data pelayanan rumah sakit, bukan gambaran keseluruhan prevalensi gangguan mental pada remaja.
Melalui aplikasi Talk GME, peserta memperoleh kesempatan mengikuti skrining awal gangguan mental emosional serta mendapatkan informasi mengenai penanganan awal yang sesuai. Program ini diharapkan membantu mengenali kebutuhan remaja lebih dini sehingga mereka dapat memperoleh pendampingan sebelum persoalan berkembang menjadi lebih serius.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut turut melibatkan tenaga profesional kesehatan jiwa, termasuk psikolog klinis, psikiater, dan spesialis keperawatan jiwa, dengan dukungan berbagai forum profesi terkait. Kehadiran tenaga profesional memberikan ruang bagi siswa untuk berkonsultasi dan memahami pentingnya menjaga kesehatan mental.
Skrining melalui aplikasi Talk GME bukan merupakan diagnosis akhir. Hasil skrining perlu ditindaklanjuti berdasarkan kebutuhan masing-masing siswa melalui asesmen profesional, konseling, atau rujukan layanan kesehatan apabila diperlukan. Dengan demikian, kegiatan deteksi dini harus disertai mekanisme pendampingan yang jelas dan berkelanjutan.
Di lingkungan madrasah, guru Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran penting dalam mengenali perubahan perilaku peserta didik, membangun komunikasi yang aman, serta mengarahkan siswa kepada tenaga profesional jika dibutuhkan. Namun, penanganan persoalan klinis tetap menjadi kewenangan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.
Perlindungan privasi juga menjadi prinsip penting dalam pelaksanaan program. Informasi mengenai kondisi emosional dan hasil skrining siswa perlu dikelola secara rahasia dan bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga peserta didik merasa aman untuk mencari bantuan tanpa takut mendapat stigma atau perlakuan diskriminatif.
Sinergi RSJ HB Saanin dan Kanwil Kemenag Sumbar sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung kesehatan mental generasi muda. Madrasah memiliki kedekatan dengan kehidupan sehari-hari siswa, sedangkan tenaga kesehatan jiwa mempunyai kompetensi untuk melakukan asesmen dan memberikan penanganan sesuai kebutuhan.
Upaya ini juga sejalan dengan semangat Asta Protas Kementerian Agama, khususnya dalam memperkuat pendidikan bermutu, membangun karakter peserta didik, serta menghadirkan pelayanan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memperhatikan kesehatan emosional dan perkembangan siswa secara menyeluruh.
Nilai-nilai keagamaan yang diajarkan di madrasah diharapkan semakin memperkuat sikap empati, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama. Penerapannya dapat diwujudkan melalui budaya saling menghargai, pencegahan perundungan, serta kesediaan mendengarkan teman yang sedang menghadapi kesulitan.
Dukungan spiritual dapat menjadi salah satu sumber kekuatan bagi remaja, tetapi tetap perlu berjalan berdampingan dengan bantuan psikologis atau medis apabila diperlukan. Dengan pendekatan tersebut, pembinaan keagamaan dan pelayanan kesehatan jiwa dapat saling melengkapi dalam membentuk generasi yang sehat, berkarakter, dan tangguh menghadapi tantangan kehidupan.
Kegiatan deteksi dini ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HKJS 2026 yang dilaksanakan RSJ HB Saanin bersama sejumlah pihak. Rangkaian kegiatan diawali dengan penyuluhan kesehatan jiwa secara massal di poliklinik RSJ HB Saanin, kemudian dilanjutkan dengan webinar nasional bertema “Speak Up, Stand Up, Stop Bullying, Start Caring”.
Kerja sama tersebut diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman antara RSJ HB Saanin dan Kanwil Kemenag Sumbar mengenai pencegahan, deteksi dini, dan penanganan gangguan mental emosional pada siswa Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah se-Sumatera Barat.
Rangkaian kegiatan selanjutnya meliputi sosialisasi kepada jajaran Kemenag kabupaten/kota dan madrasah, bimbingan teknis penggunaan aplikasi Talk GME bagi guru BK MTsN dan MAN, serta webinar nasional seri kedua yang membahas kesehatan mental di era digital. Langkah tersebut diharapkan memperkuat pemahaman dan kapasitas pendidik dalam mendukung kesehatan mental peserta didik.
Peringatan HKJS 2026 mengangkat tema “Pengalaman Hidup yang Didengar, Suara Nyata dan Perubahan Nyata”. Tema ini menegaskan pentingnya memberikan ruang kepada remaja untuk menyampaikan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi tanpa rasa takut dihakimi, sekaligus memastikan adanya tindak lanjut berupa dukungan yang tepat.
Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah siswa yang mengikuti skrining, tetapi juga dari keberlanjutan pendampingan, kesiapan mekanisme rujukan, perlindungan privasi, dan kemudahan akses terhadap layanan profesional. Evaluasi berkala diperlukan agar manfaat kegiatan dapat dirasakan secara nyata oleh peserta didik.
Melalui kegiatan Talk GME yang melibatkan 150 siswa MAN se-Kota Padang, RSJ HB Saanin bersama Kanwil Kemenag Sumbar berharap kesadaran tentang kesehatan mental semakin tumbuh di lingkungan pendidikan. Kolaborasi ini diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menghadirkan madrasah yang aman, inklusif, dan bebas stigma.
Deteksi dini menjadi langkah awal, pendampingan merupakan tindak lanjut, sedangkan kolaborasi menjadi kunci keberlanjutan. Sejalan dengan semangat Asta Protas Kementerian Agama, upaya ini diharapkan mendukung lahirnya generasi muda yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga sehat secara mental, memiliki karakter kuat, serta memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara bermartabat.(MM).


