News  

TPID Kabupaten Tanah Datar Menggelar Rapat Koordinasi Tingkat Kabupaten Atau High Level Meeting Secara Virtual

Pagaruyung,metrosumatranews.com.     ““Tantangan ke depan semakin berat, bagaimana bisa melahirkan kebijakan mengendalikan inflasi terutama untuk pemulihan ekonomi dampak pandemi Covid-19.

Untuk itu saya berharap masukan dan dukungan semua pihak, khususnya Bank Indonesia, Perum Bulog, BPS dan tim agar bisa ditindaklanjuti oleh perangkat daerah,” sampai Erman yang juga menjabat Kepala BPBD Sumbar ini.

Menindaklanjutinya, TPID Kabupaten Tanah Datar menggelar rapat koordinasi tingkat kabupaten atau high level meeting secara virtual, Selasa (03/11/2020) lalu  dan dibuka secara resmi oleh Pjs. Bupati Erman Rahman.

Dalam rangka mendukung upaya pemerintah pusat mengendalikan tingkat inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mendapat tugas untuk menyusun kebijakan pengendalian inflasi daerah yang tepat sesuai amanat Keputusan Presiden RI Nomor 23/2017.

Dengan menghadirkan narasumber Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat Wahyu Purnama, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat Gunawan Wicaksano, Kepala Kantor Perum Bulog Wilayah Sumbar Tommy Despalingga, Kepala BPS Tanah Datar Muhammad Hudaya dan turut dihadiri Kepala Perangkat Daerah terkait dan Kabag Perekonomian dan SDA Masni Yuletri yang tergabung dalam TPID Kabupaten Tanah Datar serta Asisten Ekobang Edi Susanto sebagai moderator.

Erman Rahman dalam sambutannya mengapresiasi kerja bersama dan inovasi TPID Tanah Datar dalam mengendalikan inflasi tahun 2019 sehingga untuk pertama kalinya Tanah Datar berhasil meraih TPID Award Nominasi I kategori berprestasi wilayah Sumatera.

Secara ringkas, ulas Erman, pemerintah daerah sudah melaksanakan program unggulan yaitu Gertak Babe di Salibu (Gerakan Tanam Komoditi Bawang Merah dan Cabe serta Padi Salibu).

“Program ini dilaksanakan karena inflasi sangat dipengaruhi oleh bahan pangan strategis di antaranya cabe merah, bawang merah dan beras. Dengan potensi luhan lahan yang dimiliki, cuaca yang mendukung, program ini berdampak strategis dalam menjaga ketersediaan pasokan, bahkan sudah surplus sehingga bisa dikirimkan ke kabupaten/kota bahkan provinsi tetangga, ke depan agar semakin ditingkatkan,” sampai Erman.

Erman juga katakan pemerintah daerah juga mengalokasikan anggaran Dana Insentif Daerah tahun 2020 sebesar Rp. 3,7 Miliar dan pada tahun 2021 sebesar Rp. 15,7 Miliar untuk pemulihan ekonomi.

Sementara Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Barat Wahyu Purnomi di kesempatan awal menyampaikan sudah tepat Tanah Datar mengembangkan komoditi bawang merah.

“Sudah tepat Tanah Datar memilih salah satu kebijakannya dalam mengendalikan inflasi dengan mengembangkan komoditi penyumbang inflasi seperti bawang merah, apalagi Tanah Datar juga penghasil bawang merah utama di Sumbar setelah Kabupaten Solok,” sampai Wahyu.

Untuk tingkat inflasi, jelas Wahyu, kondisi Oktober 2020, untuk Sumatera Barat di angka 0,61 persen, lebih tinggi dibanding angka Sumatera 0,36 persen apalagi nasional 0,07 persen.

“Angka ini masih cukup rendah, walaupun masih di bawah target. Ini didorong peningkatan harga beberapa komoditi yakni cabe merah, cabe hijau, bawang, biaya akademi/perguruan tinggi termasuk petai,” urainya.

Lebih jauh Kepala Deputi Perwakilan BI Sumbar Gunawan Wicaksono mengatakan inflasi harus diantisipasi dengan menerapkan 4K Program Pengendalian Inflasi yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif.

Untuk pertumbuhan ekonomi, ulas Gunawan juga terjadi perlambatan. “Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat Triwulan II minus 4,91 persen, sementara rata-rata Sumatera minus 3,01 persen dan nasional minus 5,32 persen, sejalan dengan penurunan permintaan akibat pandemi Covid-19. Tentu tahap berikutnya diharapkan angkanya semakin membaik,” ucapnya.

Gunawan juga menyampaikan rekomendasi pengembangan ekonomi Sumbar di antaranya mendorong hilirisasi komoditas unggulan, mengembangkan pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru, mengembangkan usaha mikro, kecil dan menengah serta ekonomi kreatif, mengembangkan ekonomi syariah secara berkelanjutan dan mendorong penggunaan pembayaran non tunai untuk mengurangi risiko penyebaran Covid-19 dan mendukung digitalisasi ekonomi.

Kepala Kantor Perum Bulog Wilayah Sumbar Tommy Despalingga mengatakan Bulog siap berkontribusi dalam pengendalian inflasi terutama komoditi beras.

“Bulog punya program operasi pasar untuk mengendalikan harga komoditi pokok di pasaran, kita punya persediaan bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, terigu dan daging sapi dan operasi pasar juga sudah dilakukan secara online,” sampainya.

Kadis Pertanian Tanah Datar Yulfiardi menyampaikan beberapa komoditi Tanah Datar mengalami surplus seperti beras, produksi sampai September mencapai 147.593 ton sementara kebutuhan 31.329 ton, cabe suplus 334 ton, telor ayam surplus 446 ton, daging sapi surplus 0,9 ton. Bawang merah dan bawang putih yang masih minus.

“Bawang merah dan bawang putih menjadi peluang bagi Tanah Datar untuk dikembangkan, karena kebutuhannya cukup tinggi belum bisa terpenuhi dari produksi yang ada. Ini sudah kita lakukan dengan pengembangan varietas unggulan yang cocok untuk Tanah Datar,” ucapnya. (W/STM)

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *