Opini  

Agar Setiap Kata Bermakna: Catatan dari Peluncuran Arina.id

Oleh : IRWANDI NASHIR

Dosen UIN Bukittinggi/Penggiat Media

E-mail: irwandimalin@gmail.com

KHAZANAH media Islam Indonesia kembali mendapat energi baru. Jum’at (15/12/2023), secara resmi diluncurkan portal media Keislaman dengan nama Arina.id. Atas undangan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, saya turut menghadiri peluncuran  media Arina.id yang hadir dengan tagline Memberi Arah, Menebar Rahmah. Didukung oleh 50 jejaring media Islam yang tersebar di berbagai  Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, media ini telah masuk 20 besar media keislaman di Indonesia.

   Selain  misi keislaman yang  ditebarnya,  kehadiran media Arina.id ini diharapkan menyumbang dalam upaya mencegah masyarakat agar tidak dalam kesalahan informasi di era digital ini. Sungguh ironis, di saat sumber informasi membanjir, informasi palsu begitu mudah menyelinap dan menetap di dalam pikiran seseorang karena penerima informasi tidak berpikir kritis. Mereka justru menggunakan intuisi  untuk menentukan apakah suatu informasi yang diterima benar atau tidak.

    Orang yang menerima informasi tanpa menalarnya secara logis sering disebut oleh psikolog sebagai orang yang kikir kognitif karena mereka memiliki akal tetapi tidak banyak menggunakannya. Bahkan,

orang seperti ini biasanya lebih mudah termakan berita palsu. Mereka tidak terlalu mempertimbangkan akurasi sebuah pernyataan, dan bahkan turut menyebarkannya dengan sukarela.

   Kehadiran orang-orang yang kikir kognitif ini telah lama dipahami oleh ahli propaganda dan penyebar informasi palsu.  Tragisnya, media sosial terlibat dalam pusaran penyebaran informasi bodong ini. Bukti terbaru memperlihatkan banyak orang menyebar sebuah informasi tanpa memikirkan akurasinya.

   Riset yang dilakukan Gordon Pennycook, seorang peneliti psikologi misinformasi dari University of Regina, Kanada,  menemukan bahwa sebanyak 25% responden yang ditelitinya dapat mengenali  berita palsu. Ketika ditanya apakah mereka akan menyebarkan informasi tersebut, 35% responden menjawab akan menyebarkannya. Temuan ini  memperlihatkan bahwa  orang yang menyebarkan informasi bohong itu sebenarnya dapat mengetahui bahwa informasi itu tidak benar seandainya  mereka berpikir dengan jernih sebelum menyebarkannya.

    Sepertinya orang lebih mementingkan berapa banyak yang suka atas unggahannya dibanding memikirkan akurasi unggahan itu.Disisi lain ada juga orang yang   mengalihkan tanggung jawab penilaian pada orang lain. Banyak informasi palsu dibagikan yang diawali dengan kalimat “saya tak tahu ini benar atau tidak.”  Mengulang-ulang suatu pernyataan baik dengan teks yang sama maupun diubah juga berpeluang untuk membuatnya seakan benar, apalagi semakin tingginya intensitas keakraban penerima informasi dengan informasi tersebut.

   Di tengah pusaran kikir kognitif ini, media massa Islam perlu strategi khusus untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat  yang tak ingin merenung dan berpikir panjang. Mengingat kebenaran akan mudah dikenali ketika pikiran bekerja dengan lancar dan tidak berbelit-belit, maka penyajian informasi yang membuat pikiran bekerja keras mesti dihindari. Penggunaan istilah yang rumit mesti diganti dengan istilah yang mudah dipahami, bahkan jika dibutuhkan dapat digunakan bahasa daerah fakta harus disajikan sesederhana mungkin dengan bantuan gambar dan grafis yang membuat ide lebih mudah divisualisasi. Berbagai wadah dan media yang efektif untuk penyaluran informasi mesti digunakan.

   Masyarakat juga perlu diedukasi terkait dengan berbagai tipologi informasi agar tak terseret arus informasi salah. Diantara tipologi informasi dimaksud adalah: pertama,  informasi Valid (Valid Information). Informasi tipe ini  adalah informasi yang didasarkan pada bukti ilmiah terbaru dan dapat diterima serta berlaku untuk orang lain.  Informasi valid ini harus terus menerus diinformasikan kepada masyarakat hingga ke akar rumput. 

   Kedua,   Informasi yang membingungkan  (Perplexing information). Jenis informasi ini adalah informasi ilmiah yang dibuat untuk meningkatkan pengetahuan orang lain, tetapi dikirim ke audien yang tidak tepat.  Misalnya, beberapa informasi ilmiah tingkat tinggi suatu wabah dikirimkan kepada masyarakat umum atau remaja yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup, bahkan tak dapat memahaminya sehingga dapat memperburuk kekhawatiran mereka.

   Ketiga, Informasi yang salah (Misinformation). Jenis informasi ini tidak akurat dan tidak dapat diandalkan, tetapi orang yang menyebarkannya mempercayai bahwa informasi itu benar.

Keempat, disinformasi (Disinformation). Ini adalah jenis informasi yang tidak akurat yang produsen dan distributornya hanya mengejar tujuan politik, ekonomi, budaya, atau lainnya. Jenis informasi ini disengaja, penempaan, dan manipulatif, serta mengubah realitas. Informasi seperti ini biasanya diproduksi dan disebarluaskan oleh orang-orang yang dendam.  Selain itu, juga ada informasi yang mengejutkan (Shocking Information). Membaca atau mendengar informasi seperti ini membuat penerima resah, kaget, dan cemas.  

  Tipe informasi lainnya adalah informasi kontradiktif (Contradictory Information). Jenis informasi ini diproduksi dan disebarluaskan karena perbedaan pendapat antara para ahli tentang suatu topik. Terakhir, informasi diragukan (Doubtful Information). Jenis informasi ini tidak dapat divalidasi atau didiskreditkan karena bukti ilmiah yang tidak memadai.

   Di atas semua itu, media Islam mesti teguh dengan misi awalnya dengan tetap mengedepankan sikap wasyatiyah dalam mengusung pandangan keislaman.Semua itu agar setiap kata yang diproduksi media Islam selalu bermakna.(*)

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *