Opini  

Padang Siap Lepas Landas Menuju Kota Gastronomi Dunia

Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan – Tenaga Ahli Pemko Padang

Kota Padang sedang berada di ambang lepas landas. Tidak lagi sekadar sebagai ibu kota masakan terlezat di Indonesia, tetapi menuju panggung dunia sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) kategori gastronomi.





Slogan Taste of Padang Experience 2026: Road to Gastronomy City bukan sekadar jargon pariwisata. Ini adalah pernyataan sikap. Bahwa diplomasi kuliner atau gastrodiplomacy adalah instrumen paling efektif untuk mengeskalasi citra kota, menggerakkan ekonomi lokal, dan menjaga warisan leluhur tetap hidup.

Pertanyaannya: sudah siapkah kita?

Lebih dari Sekadar Rasa
Gastronomi bukan soal kenyang. Gastronomi adalah seni, ilmu, dan narasi budaya di balik sepiring makanan.

Kekuatan kuliner Minang tidak lahir dari dapur semata, melainkan dari dialektika panjang manusia dengan alam. Falsafah Alam Takambang Jadi Guru hidup di setiap kuali. Kompleksitas bumbu – kelapa, cabai, serai, jahe, lengkuas, kunyit – bukan hanya teknik pengawetan alami sebelum ada kulkas, melainkan simbol resiliensi dan adaptasi.

Begitu pula tradisi Makan Bajamba. Duduk melingkar di lantai, makan dari dulang yang sama tanpa sekat kasta. Di sanalah nilai Saraso Sasalero, kesetaraan, kebersamaan, dan gotong royong dihidangkan sebelum nasi itu sendiri. Inilah yang tidak dimiliki kota lain: rasa yang punya falsafah.

Selama ini, merek “Masakan Padang” sudah mendunia berkat tradisi merantau. Hampir tidak ada kota besar di dunia tanpa Rumah Makan Padang. Namun itu baru babak pertama. Dunia tidak lagi hanya mencari makanan enak, tapi mencari cerita, keberlanjutan, dan pengalaman.

Rendang memang pernah dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia. Tapi prospek ke depan bukan lagi sekadar menjual rendang di restoran. Tren global telah bergeser dari food industry menjadi gastronomy tourism. Turis hari ini ingin ikut memarut kelapa, memilah rempah di Pasar Alai, memahami mengapa gulai harus dimasak dengan sabar, dan mendengar kisah di balik setiap bumbu.

Di sinilah Padang punya keunggulan kompetitif yang otentik.

Turbulensi Menuju Landasan Internasional

Namun, setiap lepas landas pasti ada turbulensi. Untuk menjadi Kota Gastronomi UNESCO, rasa enak saja tidak cukup.

Tantangan terbesar kita bukan di kuali, melainkan di ekosistem kota. UNESCO menilai secara holistik: kebersihan, inklusivitas, keberlanjutan, hingga kenyamanan pejalan kaki.

Kita masih punya pekerjaan rumah struktural. Penataan kawasan kuliner yang belum terintegrasi, pengelolaan limbah pasar tradisional yang belum optimal, ketertelusuran rantai pasok bahan baku, hingga persoalan walkability di sentra-sentra vital seperti Kota Tua Muaro Padang.

Bagaimana mungkin kita menjual narasi pasar rempah yang wangi dan estetik jika realitas di lapangan masih becek, bau, dan semrawut? Tanpa pembenahan infrastruktur urban yang higienis dan ramah turis, narasi internasional kita akan membentur tembok realitas.

Matriks Aksi Pemko Padang

Menyadari hal itu, Pemerintah Kota Padang tidak tinggal diam. Proses take off ini sudah disusun dalam matriks aksi yang terukur.

Pertama, secara dokumen dan diplomasi, Pemko sedang menyusun dossier pendaftaran UCCN secara ilmiah dan akademis, yang menjadi syarat mutlak UNESCO. Ini dibarengi dengan pembukaan kembali rute penerbangan internasional langsung di Bandara Internasional Minangkabau dan penguatan kerja sama sister city dengan kota-kota gastronomi dunia lainnya.

Kedua, secara ekonomi, UMKM kuliner diintegrasikan ke ekosistem digital dan difasilitasi sertifikasi halal internasional. Ini krusial. Tanpa sertifikasi halal dan standar keamanan pangan global, produk kita tidak akan bisa bersaing di pasar ekspor.

Ini bukan sekadar promosi budaya, ini investasi ekonomi kreatif jangka panjang. Efek gandanya nyata: dari petani kelapa dan peternak sapi di hulu, hingga pemilik hotel, pemandu wisata, dan pengemudi ojek di hilir, semua akan merasakan dampaknya.

Rekomendasi untuk Akselerasi

Agar akselerasi ini mulus, diperlukan beberapa lompatan taktis:

  1. Single Branding: Hentikan narasi yang berserakan. Padang butuh satu branding resmi yang kuat, misalnya “Padang: The Spice Cradle of Minangkabau” yang didaftarkan secara internasional untuk menyeragamkan pesan global.
  2. Storytelling Gastronomy: Wajibkan setiap rumah makan dan pusat kuliner menampilkan narasi filosofis menu dalam format QR Code multi-bahasa. Turis asing tidak hanya butuh rasa pedas, tapi butuh cerita mengapa rasanya pedas.
  3. Green Gastronomy: Dorong sertifikasi restoran ramah lingkungan – minim plastik sekali pakai, pengelolaan minyak jelantah, dan penggunaan bahan organik lokal. Keberlanjutan adalah mata uang baru pariwisata dunia.
  4. Revitalisasi Pasar Wisata: Transformasikan pasar ikonik seperti Pasar Raya dan Pasar Alai menjadi tourist-friendly spice market yang bersih, wangi, dan fotogenik. Jadikan proses tawar-menawar rempah sebagai atraksi utama.
  5. Kurikulum Vokasi Gastronomi: Gandeng SMK dan perguruan tinggi pariwisata untuk mencetak gastronomy tour guide yang fasih bahasa asing dan mahir bercerita budaya, bukan sekadar mengantar makan.
  6. Insentif Go-International: Berikan insentif retribusi dan pajak daerah bagi UKM yang berhasil ekspor bumbu atau membuka cabang di luar negeri.

Menjadikan Padang sebagai Kota Gastronomi Dunia bukan lagi sekadar opsi, melainkan keharusan sejarah. Ini adalah cara kita memastikan peradaban Minangkabau tidak berhenti sebagai romantisme masa lalu di museum, tetapi bertransformasi menjadi aset ekonomi kreatif masa depan yang diakui dunia.(**”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *